Membangun Ketahanan Keluarga dalam Merawat Peradaban

By Aprilely Ajeng Fitriana - Wednesday, February 13, 2019

keluarga


Tanggal 26 Januari 2019 lalu, saya diundang dalam acara Milad ke-4 Ibu Profesional Bogor. Bukan hanya perayaan milad biasa, tapi momen itu juga digunakan sebagai ajang silah ukhuwah antara anggota komunitas Ibu Profesional Bogor, wisuda offline, juga ada acara Seminar Keluarga dengan tema “Peran Keluarga dalam Merawat Peradaban”. Pembicara seminar tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si yang merupakan inisiator, pendiri, sekaligus Ketua dari Perkumpulan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia. Ini adalah sedikit dari rangkuman apa yang disampaikan Beliau dalam seminar keluarga tersebut.

Adab, Beradab, dan Peradaban

adab


Ada pertanyaan  menarik tentang apa itu adab? Apa yang dimaksud dengan beradab? Dan bagaimana perasaban itu dibentuk?

Pertanyaan ini kemudian tidak akan lepas dari bagaimana kasus yang terjadi di tengah masyarakat kita hari ini. Seks bebas dan LGBT yang kian marak, tingkat perceraian keluarga yang semakin tahun semakin meningkat, kasus aaborsi, kekerasan pada anak, hingga kasus tentang miras oplosan. Semuanya ada di tengah-tengah kita. Apakah ini yang disebut sebagai masyarakat yang beradab? Tentu saja bukan. semua ini adalah masalahh  kitaa bersama. Tantangan bagi setiap keluarga yang sedang menyiapkan generasi terbaik.

Dari sekian banyak masalah yang hadir, lalu muncul RUU Penghapusan Kekerasann Seksual yang didukung oleh beberapa pihak termasuk Komnas Perlindungan Perempuan. RUU ini seakan baik, menghapuskan kekerasan seksual. Pelaku kekerasan bisa dihukum jika RUU ini disahkan. Tapi ternyata kalau diteliti lagi secara seksama, RUU ini ternyata juga bisa jadi boomerang. Kalau pelaku zina melakukan atas dasar suka sama suka, maka ini boleh berdasarkan RUU ini. Kalau ada orang tua yang khawatir dengan pergaulan anaknya, lalu memaksa anaknya untuk segera menikah, maka orang tua akan terkena sanksi hukum, jika berdasarkan RUU ini.

Di sisi lain, banyak gay yang telah melakukan pesta sex di berbagai tempat. Mereka berhasil ditangkap memang. Tapi kemudian dilepaskan kembali karena tidak ada payung hukum yang mengizinkan mereka ditindak secara hukum.

Ngeri. Ini kenapa kita tidak cukup hanya menyelamatkan diri kita sendiri dan keluarga kita saja. Kita pun harus mau untuk turut berjuang di tengah-tengah masyarakat. Menyadarkan masyarakat terkait hal ini.

adab

Faktor dan Solusi Menuju Indonesia Beradab

pesawat

“Orang yang tinggi adab, walau kekurangan ilmu itu lebih mulia dibanding orang yang tinggi ilmu tapi kekurangan adab.”

Masalah-masalah terkait adab yang muncul saat ini, bukan lagi masalah kelompok masyarakat tertentu saja. Tapi ini sudah menjadi masalah yang ada di Indonesia yang harus diselesaikan bersama. Semakin lama, adab ini semakin menipis.

Lalu, apa penyebabnya?

Bicara tentang sebab degradasi adab, ternyata ada banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini. Ada multi faktor dan multi dimensi yang menjadi penyebab kenapa generasi hari ini semakin jauh dari adab.
  1. Kegagalan internalisasi adab sejak dini
  2. Kegagalan edukasi internalisasi nilai-nilai agama
  3. Kegagalan internalisasi moral karakter , seperti cinta kebenaran, keadilan, kejujuran, rasa malu, rasa bersalah, empati, simpati, cinta dan kasih sayang, peduli, tanggung jawab, serta komitmen.
Masalah yang sudah mengakar seperti ini, tentu tidak bisa diselesaikan hanya pada permukaannya saja. Harus ada pencegahan dari hulu sejak dini di dalam keluarga. Selain itu, rantai lingkaran setan perilaku kurang adab ini harus diputus. Caranya bagaimana? Bisa melalui wahana, metode, atau pendekatan yang tepat dan memadai.

Hal yang paling penting yang harus kita sadari bersama adalah THE DEVIL IS IN THE DETAILED. Mereka yang sibuk merusak generasi, melakukan tindakan yang tidak beradab itu benar-benar serius mengerjakan proyek mereka. Para feminis, liberalis, dan LGBT telah bergerak secara radikal dalam menyuarakan ide-ide mereka. Mereka bekerja dengan sangat detail dan apik. Jika mereka bisa bergerak dengan begitu detail dan sungguh-sungguh dalam proyek mereka, kita pun harus mau bekerja untuk memperbaiki semuanya dengan amat detail dan sungguh-sungguh juga.

Semuanya dimulai dari keluarga, yaitu unit sosial terkecil yang mampu dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungannya. Unit inilah yang harus dikuatkan hingga mampu membentuk banteng pertahanan yang kita sebut dengan Ketahanan Keluarga. Keluarga diharapkan mampu memiliki ketahanan terjadapa fisik ekomomi, sosial, dan psikologis. Karenanya keberfungsian keluarga, pemenuhan peran dan tugas, manajemen sumberdaya, manajemen stress, serta interaksi keluarga harus ada di dalam keluarga.

Bagaimana Mekanisme Keluarga dalam Internalisasi Adab?

mekanisme


Implementasi ketahanan keluarga dapat dilakukan melalui keberfungsian ekspresif dan pengasuhan anak, khususnya melalui kelekatan. Hal ini dilakukan agar anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga bisa menjadi anak yang beradab.
  1. Efektivitas internalisasi adab di keluarga dapat dilakukan dengan cara berikut.
  2. Membangun kelekatan atau bonding antara anak dan orang tua
  3. Penguasaan lingkup pengasuhan
  4. Metode yang memadai
  5. Konsistensi dan presistensi dalam mendidik anak
  6. Lakukan dengan lengkap dan tuntas, artinya tidak mudah menyerah dengan kondisi hongga nilai yang diinginkan tertancap kuat dalam diri anak
  7. Titik kritis pada hal detail atau rinci
Mengenai internalisasi adab, kita bisa melakukan hal ini sejak dini. Dari hasil riset, hampir seluruh peekembanban otak terjadi di bawah usia 7 tahun. Sedangkan usia yang paling efektif untuk membangun karakter (akhlak) anak itu ada di bawah 9 tahun. Bagaimana caranya membangun ini semuanya? Mudah. Kuncinya ada pada kelekatan atau bonding antara anak dan orang tua.
Kelekatan atau bonding ini yang menjadi landasan pengembangan kepribadian individu. Sedangkan ketahanan keluarga, khususnya fungsi ekspresif, menentukan pengasuhan dan kelekatan yang menentukan karakter anak.

Kok bisa? Bagaimana caranya? Berikut ini adalah table yang menunjukkan bagaimana kelekatan dapat membentuk pola hubungan saat dewasa.

gaya pengasuhan


Sebelum anak tumbuh dewasa, sebetulnya kita bisa mengecek kembali bagaimana pola kelekatan yang didapatkan oleh anak sejak mereka bayi. Kita bisa mengetahui hal ini dari respon yang mereka berikan kepada pengasuh. Pengasuh dalam hal ini tidak harus ibu, tapi bisa orang lain. Pengasuh yang akan sangat mempengaruhi perkembangan anak adalah orang yang paling lama bersama dengan anak. Kalau ibu yang paling lama, maka dialah pengasuh anak. Tapi kalau bibi, mbak, nenek, atau bunda di daycare yang paling lama bersentuhan dengan anak, maka dialah yang paling berpengaruh pada perkembangan anak.

perilaku pengasuhan


Cara pengasuhan ternyata sangat amat berpengaruh dalam perkembangan anak. Sedangkan siapa yang paling lama bersama anak, dialah yang akan berpengaruh dalam perkembangan anak kelak. Banyak para orang tua berdalih mampu memberikan quality time pada anak ketika dia tidak mampu hadir lebih lama bersama anak dibanding bibi, mbak, nenek, atau bunda di daycare. Padahal, tidak ada quality time tanpa quantity. Kita tidak bisa memindahkan isi kepala kita pada orang lain yang lebih lama bersama dengan anak. Inilah alasan kenapa pengasuhan tidak bisa disubkontrakkan pada orang lain.

Kesalahan yang terjadi pada banyak sekali keluarga adalah ketika mereka menganggap keterampilan mengasuh sebagai internalisasi adab belum dianggap penting. Akhirnya pengasuhan yang diberikan ala kadarnya, “se-ketemu-nya”. Pengasuhan bahkan belum dianggap dan dirasakan sebagai sesuatu yang penting dan bergengsi. Terlalu mudah untuk menyederhakan masalah. Serta keterbatasan penguasaan tentang pengasuhan.

Padahal anak adalah amanah. Mereka seharusnya tumbuh dan dibangun fisik, mental, dan spiritualitasnya. Mereka butuh dukungan, kebebasan, perlindungan, dan dimengerti. Hal ini agar mereka mampu memenangkan masa depan mereka sendiri.

Hal yang Perlu Dipahami

pahami


Ada beberapa hal yang perlu dipahami oleh kita (calon) orang tua, saat mendidik anak-anak kita.

1. Sensitivitas untuk berkata “tidak”. 

Ada beberapa aliran parenting yang menjelaskan bahwa kita sebaiknya menghindari kalimat negasi pada anak. Dari sini, kemudian banyak para orang tua yang berusaha untuk sama sekali berkata tidak pada anak. Sebetulnya, hal ini juga tidak tepat. Kita hanya perlu tahu kapan kita bilang “tidak” pada anak. Untuk hal-hal yang memang tidak boleh dilakukan oleh anak, kita harus tegas untuk mengatakan tidak.

2. Prinsip kemandirian anak

Mengajarkan kemandirian pada anak harus disesuaikan dengan usianya. Mudahnya adalah ketika anak sudah mampu melakukan sendiri, jangan kita bantu. Misal, anak sudah bisa makan sendiri tapi lama dan berantakan. Ya jangan dibantu. Seringkali, orang tua tidak sabar dan mengambil alih pekerjaan mereka. Entah itu karena lapar atau berantakan hasilnya.

3. Simpati vs Mengasihani

Kita perlu membedakan antara simpati dan kasihan. Anak-anak kita perlu diajari untuk tahu apa itu simpati, bukan untuk dikasihani. Kesalahan yang umum terjadi adalah ketika orang tua terlalu banyak mengasihani anak. Rasa simpati tidak akan muncul pada anak ketika kita keliru menanamkan nilai pada mereka.

4. Caution vs Fears

Kita juga perlu membedakan hal ini. Caution artinya memberikan peringatan. Sedangkan fears, artinya menanamkan rasa takut pada anak. Ini juga kekeliruan yang umum dilakukan. Bukannya membuat anak semakin waspada, orang tua justru menanamkan rasa takut pada anak. Contoh, membuat takut pada gelap, hewan, atau hantu. Mereka sebetulnya perlu belajar untuk berhati-hati, bukan ditakuti ini itu. Cara paling mudah membuat anak berhati-hati adalah dengan menunjukkan resiko yang akan dia ambil ketika melakukan hal itu.

5. Berbicara “dengan vs kepada”

Apa bedanya? Berbicara kepada itu adalah komunikasi 1 arah. Kita memberi tahu anak. Sedangkan, berbicara dengan itu adalah komunikasi 2 arah. Ada feedback yang akan kita dapat dari anak. Ini juga sering dilakukan oleh para orang tua. Tanpa sadar kita selalu berbicara satu arah pada anak.

6. Mengasuh dengan hati
7. Mencintai anak tanpa prasyarat
8. Ciptakan permainan edukatif
9. Pilihan kata penuh makna
10. Gali dan temukan kearifan anak
(Point ke 6 - 10 ini penjelasan lieur, jadi kelewat, hehehe..)

Bagaimana Membangun Ketahanan Keluarga?

rumah


Tantangan yang hadir dalam keluarga untuk diselesaikan hari ini itu banyak sekali. Ada tantangan perkawinan, adab dan karakter anak, plurakisme, liberalisme, sekulerisme, tantangan era disrupsi, miras, NAPZA, HIV/AIDS, pornografi, aborsi, adiksi game, LGBT, dan masih banyak lagi. Untuk menghadapi tantangan yang begitu banyak ini, keluarga harus memiliki ketahanan diri yang Tangguh. Berikut adalah 6 cara yang bisa dilakukan untuk membangun ketahanan keluarga.

  1. Pelihara dan kokohkan struktur keluarga
  2. Kuatkan keberfungsian keluarga
  3. Perlindungan keluarga
  4. Jauhkan ancaman
  5. Turunkan kerentanan
  6. Stabilitas dan kondusifitas lingkungan


Itu tadi, materi yang sudah disampaikan oleh Prof Euis dalam acara Milad IP Bogor lalu. Semoga ringkasan ini bisa mewakili penjelasan beliau ya.



with love,


  • Share:

You Might Also Like

33 komentar

  1. Wah, tulisan yang bagus mbak..

    Emang mendidik anak dijaman sekarang yang udah bebas dan liberal ini emang perlu trik-trik khusus agar anak tidak terikut dengan masalah-masalah di sekitar.. Apalagi LGBT itu duh..

    Belajar adab emang paling penting mbak. Bahkan di Islam diwajibkan mempelajari adab dulu sebelum ilmu..

    Semoga kita bisa menjaga keluarga kita dengan baik ya.. aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, harus kembali ke nilai-nilai agama yang kita yakini. karna saya muslim, baliknya ya ke Islam.

      aamiin yaa rabbal alamiin.

      Delete
  2. Saya sepakat akan pentingnya mengajarkan adab-adab mulia sedini mungkin pada anak. Begitupun dengan berkata "tidak" pada anak untuk hal-hal yang memang tidak boleh dilakukannya, meski sebagian pakar pendidikan anak mengatakan untuk menjauhi kata "tidak" tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Allah dan Rasulullah saja melarang kita dengan jelas lho. Ketika itu memang sesuatu yang memang tidak boleh dilakukan. Jadi, ya anak juga perlu diajari mana yang boleh dan tidak. Tentu harus dengan diiringi pemahaman ke anak. Kalau ngelarang nggak cuma larang aja. Tapi anak tahu kenapa.

      Delete
  3. wow daging banget ya materinya. Masyaallah, emang benar adab itu penting. Zaman sekarang banyak anak-anak yang kurang adab enggak anak2 doang ortu pun juga. miris, heu. makasih mba sharingnya, jadi reminder banget.

    ReplyDelete
  4. Karena keluarga adalah cikal bakal peradaban :)

    ReplyDelete
  5. 1. RUU PKS memang -masih- kacau

    2. Soal sensitivitas berkata "tidak". (Di dalam blog dituliskan: Kita hanya perlu tahu kapan bilang tidak. Untuk hal-hal yang memang tidak boleh dilakukan oleh anak, kita harus tegas untuk mengatakan tidak.)
    Menurut saya, lebih baik menghindari LANGSUNG berkata tidak. Kenapa? Karena anak cenderung memiliki rasa penasaran tinggi. Ini juga berhubungan dengan Caution vs Fears. Apakah nanti ujungnya akan menakuti setelah berkata tidak? Kecuali kalau, dibarengi dengan memberikan pengarahan, dan mengajak diskusi, memperkenalkan konsekuensi kepada anak, agar dapat bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. Saya masih penganut "iya boleh", tapi enggak sebebazzz itu juga.
    HMMM
    Artikelnya bagus mbak. Saya baca sampai habis walau panjang dan walau seperti kuliah sekian SKS. hehehe.
    Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1. Iya, kebayang nggak sih kalau RUU yang masih kacau itu jadi UU dan diterapkan. Betapa banyak kekacauan yang terjadi.

      2. Dalam Islam, Rasulullah saja mengajarkan kapan bilang tidak. Di Alquran juga Allah ketika melarang hamba-Nya juga dengan kalimat negasi. Artinya, kata "tidak" ini bukan untuk sesuatu yang tidak boleh sama sekali digunakan. Anak-anak pun perlu tahu batasan yang jelas antara boleh dan tidak. Terutama, ketika kita ingin menanamkan akhlak dan aqidah ke anak.

      Ketika kata ini bileh digunakan, bukan berarti selalu digunakan. Semuaanya dilarang. Bukan begitu juga.

      Untuk caution ini anaak bisa diberikan gambaran konsekuensi yang akan dia ambil ketika terus melakukan hal semacam itu. Misal sedang lari-lari, alih-alih bilang jangan lari, bisa digunakan kata hati-hati ya kalau lari-lari, kalau jatuh sakit lho.

      Tapi kalau anak memukul temannya? Apa kita harus tegas mengatakan tidak ke anak.
      "Jangan sayang. Teman sakit kalau dipukul. Kakak kalau dipukul mau nggak? Disayang ya temannya. Yuk, minta maaf."
      contohnya tidak langssung nyerocos ya bun, kita perlu bicara dengan anak. artinya feedback anak juga harus kita dengarkan.

      hehehe... terima kasih kembali mbak

      Delete
  6. Setuju banget nih, memang adab jadi poin utama untuk diajarkan di rumah secara tegas dan konsisten. Ibaratnya vaksin untuk menangkal pengaruh buruk dari pergaulan lingkungan zaman now yang semakin ngeri.
    Makasih sharingnya mbak.

    ReplyDelete
  7. Wah mantab sekali ini ilmu yang disampaikan...kalo kayak gini saya pasti ndak nemuin materi di kampus

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ikut kuliahnnya Prof Euis mungkin bisa dapet juga.

      Delete
  8. Wah, trmksh sharingnya mb...betul, keberhasilan pendidikan adab di keluarga adalah kunci terbentuknya peradaban di tengah masyarakat kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak. keluarga ini unit sosial terkecil. pembinaannya ada di sini. tapi peran negara juga harus ada sih. biar kerja di dalam keluarga ini juga nggak ngoyo banget.

      Delete
  9. Iyap ngeri ya mb peradaban sekarang. Keluargalah fondasi utama dalam membangun peradaban. Memang perannya sangat penting.
    Makasih sharingnya mba.

    ReplyDelete
  10. Zaman sekarang sangat kurang yg namanya adab dan moral.
    Terlihat banyak anak muda yg dewasa usianya tapi adabnya masih ABG banget, sangat berbeda dengan zaman kita dulu yang dewasa usia dan adabnya berjalan seimbang. Miris.
    Memang harus kita awali dari rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tantangannya beda bun. sekarang pengaruhnya banyak. ya dari internet, ya lingkungan sekitar. ini kalau orang tua nggak sadar ya bisa gawat.

      Delete
  11. Semoga Allah mudahkan kita menjadi orang tua yang bisa mendidik anak-anak menjadi beradab.
    Ini tugas berat orang tua zaman sekarang yang tantangannya semakin banyak & beragam.
    Terima kasih sudah menuliskan ini Mbak.
    Dari dulu pingin ikutan gabung IIP belum kesampaian.

    ReplyDelete
  12. Wih iyaaaa. Serem yaa kasus yg terbongkar kemarin . Tugas orang tua makin berat, kudu sekolah lagi tentang orang tua. Banyak2 belajar bagaimana cetak generasi penerus bangsa yg beradab

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, belajar itu wajib. zaman berkembang ya kali ilmu kita segitu-gitu aja.

      Delete
  13. Tulisan yang mantul mb...runut dari pengertian dan penjabaran, contoh kasus beserta rancangn undang-undangnya hingga hal yg kudu diperhatikn dlm ketahanan sebuah keluarga. Detil ...Mmg betul sekali kluarga yg notabene petan pentungnya ada pada kebijakan orang tua sngt penting. Namun kudu dibekali dgn pemahaman ttg tata cara mendidik anak-anak. Thx mb infonya bermnfaat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul banget. pemahaman itu harus dibangun. jangan dibiarin segitu-gitu aja.
      terima kasih kembali

      Delete
  14. penanaman ilmu agama itu penting memang ya, Mbak ...

    ReplyDelete
  15. Saya mupeng deh kalo ada kopdar komunitas blogger. Apalagi acaranya keren2. Terima kasih sudah sharing ilmunya. Sangat bermanfaat. Semoga kita bisa menjaga keluarga kita dari pengaruh tantangan zaman ya. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini bukan komunitas blogger sih mbak. hehehe..
      ini ibu profesional, komunitas belajar buibu.

      Delete
  16. Ketahanan keluarga memang salah satu kunci dasar kokohnya sebuah bangsa. Aplikasinya memang tidak mudah, tapi sangat bisa dipelajari. Sayangnya, Masih banyak yg kurang sadar bahwa menjadi ortu itu adalah pekerjaan utama sebelum pekerjaan yg lainnya. Termasuk di dalamnya adalah penanaman adab yg di dalam Islam mendapat kedudukan yg tinggi. Sumber awalnya adalah di rumah dan sekolah 'hanya' melengkapi.
    PR semakin berat jika ortu tidak mau belajar di era penuh tantangan ini. Semoga anak2 kita tumbuh jadi anak salih/ah dan tangguh menghadap tantangan zamannya karena mendapat bekal berharga dari rumah. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, praktik memang susah dibanding teorinya. tapi kebayang nggak sih kalau kita nggak punya bayangan sama sekali mau lakuin apa. trial error banget pasti.

      setidaknya, dengan banyak belajar, kita bisa meminimalisir kesalahan. PR kita makin banyal. tantangan zaman makin wow banget. ya kali kita segini-gini aja.

      aamiin yaa rabbal alamiin.

      Delete
  17. Mbak Lelly, suka banget sama postingan ini karena berguna banget buat aku Ibu newbie yang anaknya pun baru 5 bulan. Udah excited sekali tiap ada yang bahas tentang parenting. Dan cant agree more tentang kualitas dan kuantitas. Memang harus beriringan ya...jadi makin mantep nih jadi Ibu rumah tangga dulu di golden age anak demi pengasuhan terbaik. Nggak sabar juga pingin bikin aneka rupa mainan edukatf buat Julio :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, tantangan zaman sekarang itu besar banget. jadi ya kudu diperhatikan lebih soal gimana sih menanamkan value ke anak. biar dia tau harus bersikap dan berpikir seperti apa dalam menghadapi masalah pada masanya nanti.

      Delete