Jejak Pena dalam Menghasilkan Karya

by - Thursday, January 03, 2019


Saya memulai proses tulis menulis sebetulnya sudah lama. Hanya saja tidak seserius 2 tahun belakangan ini. Kira-kira pertengahan tahun 2017, saya mulai ikut kelas menulis saya yang pertama, Revowriter Basic nama kelasnya. Kelas itu diampu oleh Bu Asri Supatmiati, penulis buku, artikel, redaktur Radar Bogor, yang kemudian menjadi saudara saya. Tujuan saya waktu itu adalah ingin meningkatkan kualitas tulisan saya. Sesederhana itu.

Tiap kelas tentu punya target masing-masing. Kelas Revowriter ini targetnya adalah bisa membuat artikel untuk media dalam bentuk opini maupun surat pembaca. Agak sulit juga untuk saya. Ini adalah hal baru yang bahkan belum pernah saya coba sebelumnya. Berbekal sedikit kebiasaan menulis, saya selesaikan tugas demi tugas kelas tersebut. Termasuk ketika kami diminta untuk mengirimkan artikel ke media. Artikel saya dimuat, agak lama. Tahunya bahkan ketika Bu Asri meminta kami menelusuri jejak pena yang sudah kami buat dengan search nama kami masing-masing. Barulah saya tahu kalau artikel saya yang saya kirim itu dimuat. Itu senangnya bukan main.



Dari satu artikel, lanjut ke artikel-artikel berikutnya. Alhamdulillah banyak yang dimuat. Tapi jangan dibayangkan saya setiap hari menulis artikel ya. Tidak. Saya masih lebih banyak menghasilkan tulisan-tulisan melalui blog saya. Sepertinya menjadi blogger lebih menyenangkan dibanding harus membuat artikel untuk media. 

Sebetulnya ini cuma alasan saja karena saya lelah mencoba. Saya masih asyik dengan zona nyaman saya. Kira-kira akhir tahun 2017, saya ikut kelas menulis yang lain. Oya, kelas revo berlanjut dan semuanya saya ikuti dan hingga hari ini saya bergabung dalam komunitas alumni revowriter. 

Oke, akhir 2017 saya mulai ikut kelas menulis yang lain, YukNulis namanya. Kali ini pengampunya berbeda. Mbak Jee Luvina. Penulis buku juga. Output dari kelas ini adalah buku. Sayangnya, ketika mereka open untuk pembuatan buku saya lagi sibuk-sibuknya dengan tugas kampus. 

Mmmm... sebetulnya, beberapa orang dari grup itu berinisiatif untuk membuat buku sendiri di luar yang diusahakan oleh pihak YukNulis. Kalau yang ini kumpulan cerpen. Genrenya roman. Sekali lagi, ini beda dari apa yang saya harapkan. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba. Akhirnya, saya tulis cerpen itu. Agak takut-takut sih. Biasanya saya suka nggak mood di tengah-tengah terus failed. Alhamdulillah cerpen kali ini sukses. Selesai. Dan sekarang sedang dalam proses. Lamaaaa sekali prosesnya. 

Kami sudah ajukan ke penerbit. Tak ada kabar, akhirnya mau diterbitkan secara indie saja. Baiklah, tak masalah. Mari kita coba.



Dari 2 kelas menulis itu, saya ketemu dengan kelas-kelas menulis yang lain, seperti kelas menulis dengan Sekolah Perempuan, estrilook, IIDN, dan lain-lain. Setelah resign dari kampus, saya memang ingin menghabiskan waktu saya untuk menghasilkan banyak tulisan. Alhamdulillah bisa.

Tiap-tiap kelas menulis membawa perubahan bagi saya. Dari estrilook, saya belajar bagaimana menulis listicle. Artikel saya di web estrilook juga banyak dimuat, meski sekarang lagi agak kendor kirim ke sana karena ingin fokus blogging dulu. Dari IIDN, saya belajar membuat review produk dan hal-hal seputar blogging. Dari sekolah perempuan, saya banyak ikut projek antologi dari kelas-kelas mini yang ada di sana. Guru favorit saya di sana masih Cikgu Ana Farida. Kalau ingat beliau, jadi ingat kalau saya ingin membuat buku solo dengan didampingi beliau. Sepertinya menyenangkan.

Karya-karya saya di tahun 2018 sedikit demi sedikit mulai nampak. Belum sehebat dan sekeren orang-oranb di luar sana. Tapi mulai ada dan cukup intens. Kalau kalian melihat tampilan blog saya yang kece ini (narsis bener, wkwkwk) ini karena berguru dari banyak guru. Ke Mbak Wid (Ketua IIDN) iya, ke teman-teman di estrilook iya, dan berbagai kelas blog yang lain.

Jangan tanya soal berapa biaya yang susah keluar untuk proses belajar ini. Banyak. Dari gratis sampai berbayar, saya ikuti semua. Anggap saja ini investasi. Nggak semuanya saya sampaikan ke suami, ada yang berangkat tanpa saya bilang kalau saya ikut kelas baru. Itu kalau saya agak males mengajukan proposal sekolah ke suami. Biasanya akan ditanyakan outputnya apa, kemudian setelah kelas selesai, suami akan tanya bagaimana hasil yang saya dapatkan. Intens.

Kira-kira bulan Oktober ini saya bergabung dengan Teras Pejuang Literasi. Gara-garanya saya lagi ketagihan nulis antologi. Waktu saya gabung sih belum ada projek apa-apa. Jadi masih ikutin aja ketika mereka share ilmu-ilmu baru di dunia kepenulisan. Mayan, ilmu baru. Sampai akhirnya bulan November kemarin ada projek antologi bikin buku dengan tema "Berkantor dengan Daster Kendor". Temanya menarik nih. Cocok bangeg buat saya yang banyak galau-galau soal bagaimana menyelesaikan tugas rumah, tapi bisa nulis banyak. Awalnya nggak yakin juga bisa menyelesaikan deadline. Tapi ternyata sanggup lho. Tepat waktu bahkan. Revisi jelas ada ya. Lalu, beberapa hari yang lalu dapat kabar kalau buku kami sudah siap cetak. Deg-degan bangeeet. Nggak nyangka bisa secepat itu prosesnya. Buku saya yang saya tulis tahun lalu bahkan belum ada kabarnya sama sekali.

Buku ini adalah kumpulan kisah inspiratif dari ibu-ibu dengan dunianya. Cerita tentang daster, kehebohan di pagi hari, ketika tumpukan pakaian melambai dengan mesra, ibu-ibu yang merindukan me time tapi nggak mau kelewat family time, dan masih banyak lagi. Ini bukan curhatan biasa. Ibu-ibu di sini sudah mampu mengubah masalah-masalah yang mereka hadapi menjadi tantangan baru dalam hidup mereka. Jadi, kita bisa mengambil banyak pelajaran dari kisah-kisah  mereka.

Penasaran? Beli aja bukunya. :)






Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Estrilook Community
#ODOPDay3
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity

You May Also Like

2 komentar

  1. Wahhh bukunya baguss yaa, gak sabar nunggu riview lengkapnyaa hehe :D, mumpung lagi ada diskon juga hehe

    ReplyDelete
  2. tampaknya menulis memang benar2 diseriusin ya mbak, samapi ikut banyak pelatihan kepenulisan...

    mulai dari opini, terakhir nyoba nulis antalogi dan cerpen, padahal genre yang jauh berbeda... tapi ya kalau udah suka, semuanya pengen dilakoni

    ReplyDelete