Menolak Lupa deng Bullet Journal

by - Friday, January 04, 2019


One day, suami saya ngomel gara-gara saya suka banget lupa dengan hal-hal kecil. Dia heran aja kenapa banyak hal kecil itu kelewat sama saya. Padahal ada di depan mata.

"Karena ada yang ganggu konsentrasiku."

Iya, saya mudah sekali terdistraksi suatu hal. Pikiran saya suka mendadak jumping ke aktivitas sesudahnya sebelum saya betul-betul tuntas menyelesaikan satu aktivitas. Ini beda banget dengan suami saya yang terstruktur hidupnya. Drama yang nggak penting pun terjadi gara-gara perbedaan ini. Sampai akhirnya, kami memutuskan untuk mencari tahu masalah sama-sama dan menyelesaikannya sama-sama. 

Suami saya jadi lebih strict ngelatih saya supaya runtut ngerjain sesuatu. Dan saya, mencoba menambahkan hal lain yang bisa membantu saya untuk stay focus. Bullet Journal.

Beberapa dari kalian mungkin sudah amat sangat familiar dengan ini. Tapi ada juga yang nggak ada gambaran sedikit pun tentang Bullet Journal ini apa. Jadi, saya akan jelaskan satu per satu tentang bullet journal ini dan bagaimana pengaruhnya dalam hidup saya.

Apa sih itu Bullet Journal?



Mungkin ada dari kalian yang bertanya-tanya di dalam dada tentang apa sih bullet journal itu. Tapi ada juga sih yang udah ngeh banget, bahkan merutinkan aktivitas ini. Ada juga yang bertanya-tanya tentang apa sih bedanya dengan journal biasa? 

Bullet journal itu sebetulnya fungsinya seperti jurnal biasa sih. Dia dipakai untuk track habbit, to do list yang udah diselesaikan apa aja, dan agenda-agenda apa aja sih yang akan kita jalani. Nah, kita bisa memetakannya berdasarkan rencana tahunan, bulanan, mingguan, sampai harian. 

Apa aja isinya?

Kelebihan bullet journal dibanding planner biasa adalah dia bisa dibuat custom sesuai dengan kebutuhan pengguna. Kalau saya, isi yang wajib ada itu habbit tracker, rencana bulanan (monthly log), rencana mingguan (weekly log), dan rencana harian (daily log).

Habbit tracker
Ini fungsinya untuk membangun kebiasaan baik. Misalnya, kamu mau mulai membiasakan tahajjud, sholat dhuha, tilawah Quran, olahraga tiap hari, baca buku, dll. Kamu bisa tulis semua itu di bujo kamu. Buat tabel aktivitas dan tanggalnya. Nanti tiao hari kita tinggal tandai satu  per satu kalau sudah berhasil dilakukan.

Habbit tracker ini bisa dibuat mingguan. Bisa juga bulanan. Kamu lebih suka yang gimana aja. Plus, liat ukuran buku yang dipakai juga sih.

Monthly log
Kalau ini rencana bulanan nih. Bulan ini mau ada event apa aja. Agenda penting apa aja. Tulis aja semua. Ini membantu kita juga buat bikin perencanaan mingguan.

Weekly log




Nah, dari mlnthly log yang udah disusun tadi, kamu bisa breakdown lagi lebih detail di sini. Misal, mau ada event. Persiapan yang harus dilakuin apa aja dalam beberapa hari ke depan. Atau ada project gitu, target pencapaian hariannya apa aja. 

Kalau saya sih, isinya nggak jauh-jaun dari blogging. Kapan saya harus nulis blog, kapan harus editing, sampai ke jadwal blogwalking dan balas comment ada di sini.

Daily log
Beberapa orang sebetulnya tidak membutuhkan ini dan sudah amat sangat teewakili dengan adanya weekly log. Tapi kalau saya enggak. Saya butuh daily log buat merencanakan kandang waktu. Kapan sih saya harus begini? Kapan saya harus begitu. Semuanya ada.


Apa manfaatnya?

Sebetulnya, saya sudah mulai membiasakan buat merencanakan agenda saya dalam seminggu bahkan sebulan itu udah lama sih. Tapi dulu saya pakai planner untuk nulis itu semua. Cuma, saya kesulitan untuk mendapatkan planner yang isinya lengkap seperti apa yang saya mau. Ada perencanaan bulanan, mingguan, harian, bisa nulis-nulis bebas, bisa tracking habbits, terus ada calendernya. Kalau pun ada itu harga mahal banget. Udah gitu kertasnya sering-sering nggak nyaman buat nulis. Akhirnyaa.. saya kepikiran buat bikin bullet journal (bujo).

Kepikiran buat ngebujo ini sebetulnya udah lama banget ya. Awal tahun 2018. Udah beli bukunya juga di Buddybooks. Tapi nggak kunjung dieksekusi. Alasannya karena keburu pergi ke Batam sama keburu nikah. Terus terpisah sama buku itu sekian bulan lamanya. Baru November 2018 saya bener-bener mulai ngebujo.

Seperti judulnya juga sih, alasan saya mulai nge-bujo itu karena suka lupa-lupa. Dan alhamdulillah dengan bujo ini penyakit lupanya berkurang. Daily log saya itu isinya kandang waktu harian. Jadi, jam berapa saya harus begini, jam berapa saya harus begitu itu ada. Kalau monthly log saya isinya lebih ke to do list dalam seminggu itu apa. Sebetulnya ini juga sudah mewakili daily log kita. Cuma untuk kasus seperti saya yang suka ndlewer parah, saya tambahin lagi daily log dengan yang semacam tadi. Alhamdulillah ngefek.



Sebelumnya saya coba bikin schedule mingguan yang fix. Tapi ternyata nggak bisa gengs. Aktivitas saya bener-bener dinamis banget. Jadi, saya pun memutuskan untuk merencanakan jadwal harian minimal setiap pagi.

Tiap hari minggu saya bikin spreadnya. Terus isi agenda seminggu mau ngapain aja, to do list, dll. Jadi, sehari-hari nanti tinggal isi aja yang daily log dan nambahin dikit-dikit weekly lognya.

Sifat pelupa saya sebetulnya nggak 100% hilang sih, Tapi dengan cara seperti ini alhamdulillah berkurang. Saya nggak tahu seberapa ngefek ini di kamu, tapi cara ini betul-betul layak dicoba. Apalagi kalau kamu adalah orang yang super duper sibuk dengan banyak deadline yang menumpuk.

Segitu aja sharing dari saya, semoga bullet journal ini juga bisa membantu kamu untuk mengatur waktu lebih baik. Lepas dari apakah kamu suka lupa, macem saya, atau enggak.


With love,


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post Bersama Estrilook Community
#ODOP #Day4 #EstrilookCommunity


You May Also Like

2 komentar

  1. Masuk tahun 2019 saya juga resmi nih jadi anak Bujo hahahaha. Alasannya kenapa akhirnya pengen bujo juga, karena bisa custom sendiri sesuai kebutuhan kita. Downside-nya, harus meluangkan waktu untuk gambar-gambar aja sih ya. Tapii ternyata seru juga sih, bisa dinikmati prosesnya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya dari akhir tahun 2018. ternyata seru ngebujo ya.. wkwk

      Delete