Tinggal Serumah Bareng Orang Tua

By Aprilely Ajeng Fitriana - Wednesday, July 10, 2019


Setelah nikah tinggal di mana? Ini jadi topik yang pasti akan dibahas oleh pasangan yang sedang mempersiapkan diri menuju pernikahan. Alhamdulillah, kalau ternyata salah satunya sudah punya tabungan dan bisa beli rumah. Tapi kalau belum, aneka opsi pilihan pun harus diambil. Mau kontrak rumah kah? Atau tinggal sementara di Pondok Orang Tua Indah?

pondok mertua


Masing-masing pilihan yang diambil tentu punya konsekuensi dan tantangan tersendiri. Kalau kontrak rumah, artinya harus menyisihkan uang untuk bayar kontrakan rumah. Kalau tinggal bersama orang tua, bisa hemat biaya sewa kontrakan, tapi harus siap dengan tantangan lain saat tinggal bersama orang tua.

Saya pribadi tidak pernah menjadikan Pondok Orang Tua Indah sebagai opsi tempat tinggal setelah menikah. Kalau memang tidak punya rumah, ya mari kita kontrak rumah saja. Pahit manisnya mari kita tanggung bersama. Alhamdulillah, setelah menikah kami berdua nggak sampai kontrak rumah atau tinggal serumah bareng orang tua.


Alasan Tidak Ingin Tinggal Serumah dengan Orang Tua


Ada beberapa alasan yang membuat saya enggan tinggal serumah dengan orang tua di awal-awal pernikahan. Bukan karena saya tidak mau direpotkan dengan orang tua. Demi Allah, bukan begitu. Tapi ada beberapa hal yang ingin saya bangun bersama suami saya, lepas dari campur tangan orang tua kami.

1.   Membangun Budaya Baru

budaya di rumah


Setiap keluarga biasanya punya budaya sendiri-sendiri. Budaya yang dibangun dalam keluarga biasanya akan membentuk karakter dari tiap individu. Sebelum menikah, perbedaan budaya semacam ini mungkin belum terasa. Tapi setelah menikah, hidup bersama selama 24 jam 7 hari, semua jadi tantangan tersendiri.

Kenapa? Nggak semua kebiasaan yang dibawa dari rumah masing-masing akan membuat nyaman satu sama lain. Nggak sedikit hal sepele yang kemudian menjadi drama dalam rumah tangga hanya karena perbedaan budaya ini.

Sebetulnya ini bukan masalah besar, setiap rumah tangga muda pasti akan mengalaminya. Pada akhirnya masing-masing dari kita akan punya toleransi dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.

Hal menarik yang muncul dari toleransi ini adalah terbangunnya budaya yang baru. Masing-masing punya kebiasaan yang dibawa dari rumah. Ada yang baik, ada juga yang buruk. Banyak atau sedikit biasanya beberapa kebiasaan ini akan tertularkan pada satu sama lain. Tanpa disadari mulailah terbentuk budaya yang baru. Seperti, aturan makan di meja makan, atau aturan-aturan yang lain.

Budaya semacam ini juga yang nantinya akan menjadi salah satu point dalam mendidik anak. Ketika suami dan istri sudah sejalan, tentu akan lebih mudah dalam mengarahkan anak. Hal menantang lain akan datang ketika kita tinggal dengan orang tua. Membangun budaya dalam rumah tangga sendiri tentu menjadi PR lagi. Belum lagi masalah standar ganda yang amat mungkin terjadi saat nanti tinggal bersama dengan orang tua.

2.   Lebih Mandiri

mandiri


Mau umur 5 tahun atau 25 tahun sekalipun, bagi orang tua, kita tetaplah anak-anak. Saran dan nasehat akan terus mengalir pada kita. Bahkan, bantuan yang sering kali tidak kita minta juga akan mereka berikan. Semua itu karena kasih sayang mereka.

Sayangnya, hal semacam ini jadi berbeda ketika kita sudah berkeluarga sendiri. Besar atau kecil, keterlibatan orang tua ke dalam masalah-masalah kita itu pasti ada. Padahal, kita dan pasangan juga butuh ruang untuk belajar menyelesaikan persoalan daam rumah tangga sendiri tanpa campur tangan siapa pun. Menikmati setiap proses keberhasilan maupun kegagalan bersama-sama sebagai bagian dari proses belajar.

Salah satu contoh kecil, menyiapkan sarapan untuk keluarga. Tinggal bersama orang tua dan tidak tentu berbeda. Saya coba bandingkan dengan pengalaman pribadi saat mertua atau orang tua saya berkunjung ke Bogor selama beberapa hari. Kalau ada mereka, saya lebih selow soal urusan masak. Entah itu ada tenaga bantuan mendadak, atau bahkan take over urusan masak oleh ibu.

Awalnya, nggak nyaman ketika area kerja saya “diobok-obok” oleh orang lain. Maunya masak A dengan kreasi sendiri, biasanya akan ada campur tangan lain yang nggak jarang bikin mood masak hilang. Lama-lama, saya coba untuk kasih ruang. Kalau saya yang masak, coba tutup kuping sama tenaga pembantu, kecuali saya minta. Tapi kalau mereka lagi pingin masak makanan tertentu, ya saya yang akan mundur jadi pemeran utamanya.

Itu masih soal urusan masak. Belum bagaimana mendidik anak dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan lain.


3.   Kenyamanan Bersama

kenyamanan


Orang tua saya adalah orang asing bagi suami saya. Sebaliknya, mertua saya adalah orang asing bagi saya. Ketika tinggal bersama dengan orang tua saya, mungkin akan ada perasaan tidak nyaman bagi suami saya untuk melakukan ini itu. Ruang gerak jadi amat rerbatas karena sungkan dan sebagainya. Begitu pula saya ke mertua.

Ini sebetulnya perkara waktu. Lama kelamaan ketidaknyamanan itu akan hilang dengan sendirinya.

Meski begitu, tetap beda rasanya tinggal bersama orang tua dan tidak. Kita dan pasangan butuh area private sendiri tentunya. Area ini biasanya akan jadi semakin sempit saat ada orang lain. Mau jalan-jalan godain suami dari dapur ke kamar juga nggak memungkinkan kalau ada orang tua. Mau pakai baju agak seksi dikit juga nggak bisa, kecuali pas udah di kamar aja. Iya, saya tahu, setelah punya anak, hal semacam itu juga akan berkurang. Tapi setidaknya kita bisa punya waktu sendiri lebih lama bareng pasangan.

Ketika Tinggal Bersama Orang Tua Menjadi Suatu Keharusan

orang tua


Saya nggak berani bilang bahwa pilihan yang saya ambil adalah pilihan terbaik. Menurut saya, kondisi tinggal sendiri adalah kondisi ideal bagi pasangan muda yang baru menikah. Sayangnya, nggak semua bisa memilih kondisi ini. Ada beberapa alasan yang mengharuskan kita untuk memilih tinggal bersama dengan orang tua.

Saya punya teman yang punya kondisi demikian. Dia tinggal bersama ibunya. Ayahnya masih hidup memang, tapi orang tuanya bercerai saat dia masih amat sangat kecil. Bahkan, kenal siapa ayahnya saja baru setelah dia kuliah. Dulu, dia tinggal bersama kakek neneknya. Sekarang keduanya sudah meninggal.

Ibunya adalah anak tunggal. Tanpa sanak saudara. Bagi ibunya, teman saya ini adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Nggak ada yang lain. Setelah usia senja, tentu sulit bagi teman saya ini untuk meninggalkan ibunya sendiri. Mau tidak mau ya mereka harus tinggal bersama.

Tantangan demi tantangan pernah dia lalui, salah satu hal krusial yang terjadi adalah dalam pengasuhan dan pendidikan anak. Salah satu contoh adalah perihal minum ASI. Anak pertamanya terbiasa minum susu formula sejak bayi. Bukan karena dia tidak mampu memberikannya, tapi karena neneknya yang tidak tega melihat cucunya menangis kelaparan sementara ibunya masih dalam perjalanan. Teman saya sering sekali gagal memberikan ASI pada anaknya, padahal kondisi ASI di payudaranya sudah amat penuh dan minta untuk dikeluarkan.

Dalam kasus yang lain, pernah juga si anak jadi berbohong padanya. Anaknya dilarang makan mie instan. Kita tidak perlu lagi mempertanyakan apa alasannya, bukan? Tapi kemudian neneknya memberinya mie instan dengan pesan, “jangan bilang Mama, ya.”

Agak kacau untuk mendidik dan mengasuh anak pertama ini. Pertama, dia sendiri masih belajar dan belum paham formula terbaik untuk mendidik anaknya. Kedua, ada ibunya sendiri yang sering kali merasa caranya yang terbaik karena ada bukti real yang sudah jadi. Padahal, zaman berkembang, tantangan berubah. Banyak penelitian yang juga menjelaskan mana yang baik dan buruk, tidak hanya asal mengikuti apa kata orang dulu saja.

Itu tadi contoh ketika kita harus tinggal dengan orang tua sebagai balas jasa. Kebetulan orang tuanya juga mau diajak tinggal bersama. Memangnya ada yang nggak mau? Ada.

Nenek saya, ibunya Ayah, usianya sepuh. Jalannya saja sudah tak bisa selincah dulu. Ada beberapa masalah kesehatan juga yang dia derita. Tapi sulit sekali mengajaknya untuk tinggal bersama salah satu anaknya. Ayah saya dan saudara-saudara Ayah yang lain pernah menawarkan hal ini, tinggal pilih mau tinggal dengan siapa. Sayangnya, beliau tidak mau. Akhirnya, anak-anaknya jadi sering bolak-balik kota-desa bergantian untuk mengecek kondisi beliau.

Meski hari ini kita tinggal bersama keluarga kecil kita sendiri, mungkin aka nada masanya kita akan menjemput orang tua kita untuk tinggal bersama kita. Karena faktor usia maupun kesehatan, itu pasti akan jadi bahan pertimbangan. Saya pribadi sulit membayangkan untuk mengirim orang tua sendiri ke Panti Jompo, tidak sampai hati rasanya. Apalagi saya masih mampu untuk merawat.

Saat ibu sakit, saya galaunya bukan main. Kami terpisah jarak yang begitu jauh. Saya di Bogor dan orang tua saya di Malang. Sulit untuk membawa ibu ke Bogor karena dia masih punya amanah yang harus diselesaikan di sana. Jelas tidak maunya. Saya sendiri juga sulit kalau harus tinggal bersama orang tua saya dan terpisah dengan suami, apalagi saat itu kami baru saja menikah. Banyak malam yang saya habiskan dengan menangis. Nggak jarang juga saya jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran.

Alhamdulillah, sekarang kondisinya membaik. Hari ini kondisi kami masih tetap sama. Saya belum bisa tinggal di Malang, begitu juga dengan orang tua saya, tidak bisa tinggal di Bogor. Saya Cuma bisa berdoa mereka selalu dilindungi oleh Allah dan terus diberikan kesehatan di usia mereka yang makin lanjut. Aamiin…




  • Share:

You Might Also Like

28 komentar

  1. Membangun rumahku surgaku walau tanpa fasilitas di awal pernikahan ya mbak asyiik

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa.. diupayakan swndiri, diperjuangkan sendiri.
      berdua deng, sama suami, biar makin mesra

      Delete
  2. aku malah "diusir" sama orang tuaku dan mertuaku. Disuruh beli rumah sendiri, katanya supaya ngga nyusahin haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. orang tuaku juga pinginnya aku mandiri. nggak enak kalau tinggal serumah bareng orang tua, salah satu pasti akan merasa nggak nyaman.

      Delete
  3. Pernah merasakan tinggal bersama orang tua maupun mertua setelah menikah. Pada akhirnya kami memutuskan mengontrak rumah sendiri karena malah sering terjadi friksi karena masalah sepele.

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang idealnya tinggal terpisah sih mbak. meski harus ngontrak. tapi kadang ada kondisi yang tidak bisa dihindari dan harus banget tinggal serumah. kalau gitu ya apa boleh buat.

      Delete
  4. Sudah diwanti-wantis sejak SMA malah, "kalau ntar nikah kamu ke luar dari rumah ya, boleh sih tinggal di sini tapi bayar kaya orang ngontrak." Begitu kata ibu saya.

    Alasannya sih, supaya belajar menjadi manusia dewasa 'beneran'. Seperti kata kakak, mau ngontrak kek ga masalah yang penting ngerasain hidup di atas kaki sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya dulu juga disarankan untuk pisah dari orang tua mbak. kata orang tua saya, nggak apa-apa kamu ngontrak, namanya baru menikah ya semuanya butuh perjuangan.

      Delete
    2. Padahal mama ku tau kalau awal menikah itu sulit meskipun harus ngonttak, tapi ya kenapa aku dipaksa untuk membeli rumah kpr

      Delete
  5. Kalau saya nggak suka tinggal di rumah ortu, soalnya nggak nyaman aja, dan bikin masalah aja hehehe

    Tapiii, kalau emang sebuah keharusan, saya sih oke-oke saja baik di rumah mertua atau rumah sendiri.

    Toh kalau keharusan itu biasanya emang gak ada yang diandalkan selain kita, means di rumah cuman ada kita dan ortu/mertua.

    Yang ga asyik itu kalau banyak sodara juga tinggal di rumah itu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju mbak, saya juga begini sih.

      kalau soal sodara yang tinggal serumah emang nggak nyaman banget sih. belum lagi tambahan dramanya. hahaha

      Delete
  6. Hai mbak Lelly, kuku setuju. Aku jga nantinya setelah suami kembali, kami ingin merantau bersama dan tinggal bertiga saja tanpa orang tua. Hal pertama yaitu ingin menumbuhkan budaya baru dari kami berdua, jadi nggak ada ikut campur parenting orang tua lagi krena we know what we do :) InsyaAllah

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangat ya mbak yang masih LDM, semoga bisa cepet kumpul lagi sama suami. saya baca ceritanya orang-orang yang LDM tuh suka baper sendiri. nggak kebayang gimana rasanya.

      Delete
  7. Mbak, sama ih perasaannya ama aku. Dulu pengen mandiri merantau dan hidup jauh keluarga masing-masing krn ingin membina rumah tangga yg mandiri. Kini ketika orang tua sudah semakin tua, mulai kepikiran kondisinya krn berjauhan. Akhirnya doa yang selalu terpanjat untuk kesehatan dan perlindungan beliau berdua. Bandung-Solo adalah jarak yang memisahkan kami. Semoga orang tua kita selalu dalam perlindungan-Nya ya mbak. aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kalau orang tua udah makin sepuh emang pinginnya juga tinggal serumah. kan bingung juga ya kalau kenapa-kenapa. apalagi kalau jaraknya jauh.

      Delete
  8. Yup lebih nyaman sih klu sudah berkeluarga tinggalnya mandiri, gak di rumah ortu atau mertua. Rencana saya juga kayak gitu tapi ternyata setekah nikah ada kondisi yang bikin saya akhirnya harus tinggal lama dulu di rumah orang tua. Alhamdulillaah sekarang udah ngontrak lagi.

    ReplyDelete
  9. Entah kenapa, sebelum merit aku dan suami emang udah sepakat mau tinggal sendiri, walaupun di kampung ibuku udah menyediakan tempat tinggal untuk tinggal bersama beliau. Aku dan calon suamiku saat itu nekat ambil rumah di bekasi untuk ditempati begitu kami menikah.

    Puji Tuhan semuanya lancar, setelah menikah kami langsung menghuni rumah sendiri, meskipun kondisinya belum layak ditinggali tapi kami nyaman, kami bisa hidup mandiri, beradaptasi hidup berdua 24/7 tanpa campur tangan orang tua dan mertua hehhe.

    Nggak kebayang kalau campur sama orang tua atau mertua, kami berdua nggak bisa sebebas di rumah sendiri hehehe, setelah jauh dari orang tua skrg ketemu orang tua adalah hal yang selalu kami rindukan, karna jarang ketemu hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, even orang tua sendiri, tetep aja nggak nyaman kan. apalagi sudah menikah. lebih enak kalau tinggal terpisah dengan orang tua.

      Delete
  10. Halo mba, saya juga dilahirkan dari anak yg broken home. Ada dimana ketika saat kecil blm bisa menerima kenyataan yg ada, saya tinggal bersama ibu tiri dan ayahku yg jarang bertemu dgn saya. Karna saat saya masih sekolah,pagi2 ayahku masih dikamarnya, dan saya pulang kerumah hingga tidur malam, ayahku blm pulang juga. Sampai2 setiap hari disiksa o/ ibu tiri yg nyaris membunuh saya.

    Saat itu saya masih kelas 2sd. Saya merasa kesal kpd orangtua saya, kenapa bercerai? Saya juga kesal kpd ibu saya, kenapa ibu saya tinggal asik2an dgn suami nya yg baru dan melupakan saya?

    Dan saat saya sudah besar, ibuku tiba2 datang meminta maaf, dan meminta tinggl bersama saya dgn suami saya saat saya sudah menikah, dimana sebelumnya saya dgn suami sudah berkomitmen utk tdk ada campur tangan orangtua ketika menikah..
    Bingung.. Kesal.. Campur aduk..
    Di sisi lain, dia tetap ibu saya, tdk mungkin saya menyia2kan ibu saya di sisa umurnya..
    Tetapi di sisi lain juga ada kekesalan dan kebencian dimana realiti tdk sesuai komitmen dan keinginan kita..
    Rasanya seperti tdk rela.. Tp aku juga tdk mau mencampakkan ibu sendiri..

    Apakah rasa tdk rela yg saya rasakan itu hal wajar?
    Apa yg harus saya lakukan ketika ibu saya semakin semena2 saat tinggal bersama, sedangkan sebelumnya ibu saya menyia2kan anaknya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak anon,
      Saya rasa wajar bila seseorang punya perasaan demikian pada orang tuanya. Permasalahannya adalah bagaimana caranya bersahabat dengan perasaan itu. Segala luka di masa lalu harus disembuhkan dulu. Kalau mbak memang butuh bantuan psikolog, it's okay. Datang aja dan cerita ke mereka supaya dibantu.

      Terkait ibu tinggal serumah dengan mbak atau tidak, saya nggak bisa memberikan saran selain bicara dengan suami. Coba tanya suami bagaimana kondisi yang terbaik untuk kalian.

      Delete
  11. HMMMMM sebenarnya kesel juga kalo Kaka ipar dan Kaka sendiri kaga paham dan ngerti situasi malah pengen lama lama tinggal dirumah ortu apalagi motor keluarga jadi hak milik suaminya aduhhh kayak parasit

    ReplyDelete
  12. Bagaimana kalo orang tua yang tinggal dengan kita ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini semua kembali ke pertimbangan keluarga masing-masing. Bisa diskusi dengan pasangan terkait hal ini.

      Kalau saya pribadi, seperti yang sudah saya tulis di atas, ya nggak masalah. Kan orangtua makin lama makin tua. Apa iya beliau dibiarkan merawat dirinya sendiri di usia tua?

      Delete
  13. Dulu aku awal nikah sempet tinggal sebentar di rumah orang tua ku, karna ada konflik, kami pindah ngontrak, kemudian aku hamil dan melahirkan dirawat oleh orang tua ku udah hampir 10 bulan tinggal di rumah orang tua ku, pengen rasanya pindah ngontrak lagi mbak, tapi masih belum berani takut gak sanggup karena penghasilan suami pas pasan, gimana ya mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebetulnya, ini balik lagi sama pilihan mbak dan suami mau gimana. Kalau merasa konflik terus, sebaiknya memang pisah dulu. Buat lingkungan yang kondusif juga buat membesarkan anak. Kasihan anaknya juga kalau besar di tengah konflik.

      Tapiiii... Semisal masih memilih tinggal sama ortu, ya harus mau berupaya bersahabat dengan konflik ini. Mencari cara untuk menyelesaikan tiap masalah yang hadir.

      Btw, Allah itu Maha Kaya lho mbak. Rizki tiap orang itu udah diatur juga sama Allah. Jadiiii, jangan lupa libatkan Ar Razaq ini. Minta dimampukan. :)

      Delete
  14. Hy Mba..sy cukup lega membaca tulisan Mba..Saya ingin berbagi cerita..tapi rasanya terlalu 'vulgar'jika harus disharing disini..Bs mnta lamat emailnya Mba? Sebelumnya makasih..kalau tidak berkenan juga tidak apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alamat email saya sudah tercantum di profil saya ya. 😊

      Delete